Rabu, 17 Maret 2010

TASTELESS



i know since first time i saw you
i feel the beautifulness
that sweety smile blow me
like a mild whisper lead me

i know since beginning
here would be the rain
shower my careless so bad
i'm in pretend to don't know

and i know i've waste my chance
sadness being the meaning of my dream
now, i only give untasted smile
i don't know if happiness is sorrow
cause that smiling face not with me

i never play with faith
but the faith play me on
now, that blue feeling turn off
and would never give a taste again

Rabu, 10 Maret 2010

CRAZY


Dari dulu aku paling ngeri dengan orang gila yang suka mengamuk tanpa sebab. Ya, rumahku dulu dekat dengan Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Jadi kadang – kadang terlihat orang gila yang lepas dari pengawasan berkeliaran di sekitar rumah penduduk.

Tamu Tak Diundang

Biasanya kalau mendengar istilah ‘Tamu Tak Diundang’ yang terlintas di benak kita adalah maling atau tukang kredit, nah kalau peristiwa yang dialami tetanggaku ini lain lagi.
Pernah suatu hari ada seorang pria yang tiba – tiba datang ke rumah tetanggaku dan tanpa permisi dia ikut duduk di samping anak tetangga yang sedang nonton televisi, mereka (tetanggaku itu) tidak menyadari kehadiran orang asing itu sampai anaknya yang paling kecil tiba – tiba bertanya pada ayahnya, ”Yah, oom itu siapa? Kenapa ikutan nonton sama kita?”. Sang ayah terkejut sekali sambil melihat pria asing yang hanya senyum – senyum ke arahnya itu.
Kemudian si ayah bertanya, “hei, kamu siapa? Kenapa masuk rumah orang ga bilang – bilang?”. Pria asing itu tidak menjawab. Dia malah tertawa – tawa lalu tanpa permisi mencomot coklat yang sedang dimakan oleh anak bungsu tetanggaku itu. Mereka yang sedang menonton televisi semua terheran – heran lalu tersadar bahwa lelaki itu adalah salah seorang pasien RSJ yang lepas. Akhirnya sang ayah memberanikan diri mengusirnya. Ya, seperti kita tahu orang gila tidak mempan dimarah – marah atau pun diusir. Jadi tetanggaku itu butuh waktu yang lama walau pun pada akhirnya pria gila itu memang pergi.

Kehebohan di Sekolah

Dulu sewaktu aku masih sekolah di SMP, ada peristiwa yang paling menghebohkan tidak cuma sekolah kami tapi menghebohkan sekota. Peristiwa itu merupakan peristiwa paling mengerikan bagiku apalagi aku emang takut dengan yang disebut orang gila.
Sebenarnya sekolahku yang dulu tidak berdekatan dengan Rumah Sakit Jiwa tapi ada seorang warga sekitar yang mengidap “penyakit gila akut” yang kadang – kadang suka mengamuk aku lupa warga sekitar memanggilnya siapa. Anggap saja namanya Man atau “Man gila”.
Hari itu tidak sepeti biasanya, gerbang sekolah yang selalu ditutup saat proses belajar – mengajar berlangsung malah terbuka lebar. Entah disengaja atau satpam yang jaga di depan lupa menutupnya. Dan mungkin sudah takdir Tuhan juga pada hari itu si Man gila mengamuk dan masuk ke dalam gedung sekolah kami dengan membawa golok. Pak satpam yang biasa menjaga gerbang tidak berani untuk menghadangnya.
Kebetulan ada satu ruang kelas yang pintunya terbuka (kalo ga salah sich itu kelas satu), maka masuklah si Man gila tadi dalam keadaan mengamuk dengan mengayun – ayunkan goloknya. Seisi kelas itu ketakutan dan berhamburan keluar. Malangnya ada beberapa orang anak yang terkena sabetan goloknya hingga mereka terluka cukup parah. Yang paling mengenaskan adalah seorang siswi yang terjebak sendiri dalam kelas, si gila menyayatnya dengan membabi buta sampai anak itu terluka sangat parah. Kehebohan itu membuat semua siswa berhamburan keluar gedung sekolah ingin menyelamatkan diri masing – masing.
Untunglah ada seorang guru yang berhasil mengambil golok di tangan si Man gila dan akhirnya bisa mengsirnya menjauh dari lingkungan sekolah. Namun malang nasib siswi yang sekarat tadi, dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Orang tuanya benar – benar ‘shock’ waktu tahu anaknya menajdi korban dalam peristiwa itu.
Mereka (orang tua siswi yang meninggal itu) menyalahkan pihak sekolah karena telah lalai sampai putri mereka harus kehilangan nyawa dengan cara tragis seperti itu. Namun entah bagaimana penjelasan dari pihak sekolah pada orang tua siswi tersebut sehingga tidak ada tuntutan dari mereka, mungkin dewan guru berhasil meyakinkannya bahwa kejadian itu benar – benar kecelakaan tak terduga. Mungkin juga kedua orang tua siswi itu sudah pasrah, toh meskipun mereka menuntut tidak akan mengembalikan putri mereka.
Peristiwa heboh itu benar – benar sudah meninggalkan trauma yang dalam bagi para siswa termasuk aku. Ya, “I hate crazy people !”

Tertipu Orang Gila

Pernah juga aku punya pengalaman yang menyebalkan tentang orang gila (kenapa lagi nih?). Dulu sewaktu aku masih SMA, ayahku pernah mengajakku berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa (nah lho? Ayahku ‘aneh’ juga ya, koq ngajak jalan – jalan ke RSJ?). Kata ayah, ada temannya yang jadi dokter dan kerja di sana.
Ikutlah aku dan adikku ke RSJ menemani ayah menemui Pak dokter itu. Begitu masuk gerbang RSJ itu kelihatan sangat sepi jadi aku tidak terlalu takut berjalan di sana. Lalu ayah mengajak kami ke sebuah ruangan dan ternyata di ruangan itu cukup ramai, ada beberapa orang yang berpakaian dokter dan perawat. Menurut analisaku (yang ‘sok tahu’) orang – orang itu adalah para medis yang bekerja di sana dan ruangan itu adalah ruang tunggu karena ada seperangkat kursi dan televisi.
Ayah menyuruhkan dan adik menunggu d sana sementara dia mencari Pak dokter temannya itu di ruangan lain. Duduklah aku dan adikku di kursi bersebalahan dengan beberapa orang yang sedang menonton televisi. Sudah jadi kebiasaan aku suka ‘sok ramah’ dengan orang yang baru ku kenal, waktu itu aku mencoba mengajak ngobrol seorang lelaki yang berpakaian dokter dan seorang perawat. Aku bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Yang buat aku kesal, kedua orang itu tidak menjawab malah sibuk sendiri dengan peralatan kedokteran yang dipegangnya. Karena merasa ‘dicuekin’, aku tinggalkan mereka dan ikut yang lain menonton televisi.
Tiba – tiba ada seorang gila yang membakar sesuatu, orang – orang di ruangan itu (selain aku dan adikku) berteriak – teriak heboh sekali. Aku dan adikku jadi ikutan panic, tiba – tiba ayahku dating bersama Pak dokter dan beberapa orang perawat. Dokter dan para perawat itu segera membawa orang – orang gila itu kembali ke kamarnya masing – masing. Setelah suasana jadi tenang tiba – tiba adikku bertanya sama salah seorang perawat, “Mbak, dokter sama perawat yang ada di dekat sini tadi mana?”. Perawat itu balik bertanya, “dokter? Dokter yang mana? Pak dokter kan baru datang tadi !”. “lho, tadi ada koq dokter yang lain malah sempat diajak ngobrol sama Kak Dwi. Iya kan Kak”, adikku mencoba meminta persetujuanku. Lalu perawat itu menjawab, “Oh, jangan – jangan yang kalian maksud itu si Dido dan Dipa ! mereka itu bukan dokter atau perawat tapi mereka pasien di sini. Emang mereka berdua suka sekali menirukan gaya dokter dan perawatnya.” Aku dan adikku saling berpandangan terkejut. “What? I have talked with crazy people?” seruku kepada adikku. Adikku cekikikan sambil menyahut, “dan tertipu oleh orgil ! haha……..“

Minggu, 24 Januari 2010

PELAJARAN KEHIDUPAN

Saat ku terpaku menatap tumpukan buku
Saat ku rasa bosan mulai menyelimuti jiwa
Saat otakku serasa lelah dan tlah kehabisan dayanya
Saat tiada satu pun kata yang mampu ku tulis
Hanya kepenatan yang terasa
Dan lelah yang tersisa

Lalu ku lihat seorang anak yang belajar jalan
Lucu ku lihat, dia terjatuh lalu bangkit lagi
Dia jatuh lagi tapi tak juga menyerah sampai akhirnya
Dia bisa melangkah sampai sepuluh langkah
Dan ku lihat senyum puas di wajahnya
Anak yang manis, dia tak pernah bosan mencoba

Kemudian aku terhenyak
“Hei, itu jawabnya !” bisik hatiku
Ya, belajar bukan suatu kebosanan
Ia bukan hal yang melelahkan
Bila kau tahu caranya
Bila kau tak hanya terpaku pada buku dan sekolah

Ya, ilmu tidak hanya di buku
Ilmu tidak dalam rumus – rumus rumit itu
Ilmu tidak harus memaksa otakmu bekerja keras
Kehidupan adalah ilmu terbaik

Lihatlah kau bisa temukan ilmu dari seorang anak kecil
Dari seekor kupu – kupu
Dari aliran sungai di dekat rumahmu
Dari pedagang buah di pasar
Dan lihatlah, kau tiada pernah merasa bosan
Kau tiada harus berpusing ria

Kawan mari dapatkan ilmu kita di mana pun

MEMILIKI DUNIA


Pagi ini tuk ke sekian kali, gontai kaki melangkah
Rasa malas menyeret – nyeret
Ya, aku harus kembali ke sana
Aku harus menghadiri kelas
Hadir dalam ruang yang didirikan untuk mereka yang ingin memiliki dunia
Memiliki dunia? Terlalu berat rasanya untuk orang sepertiku

Bagaimana memiliki dunia?
Dengan koin – koin di celengan ayamku kah
Dengan hasil jualan koran kah
Bahkan biduk kecilku pun tak mampu mengelilinginya
Apa yang dipunya seorang miskin sepertiku

Tiba – tiba sadarku terbangkitkan
Seketika ku baca di dinding kelas
“gantungkan cita- citamu setinggi langit”
Ku tatap langit luar, ku lihat mentari yang seolah tersenyum padaku

Cita – cita !
Ya, itulah yang ku punya
Semua orang bahkan si fakir memilikinya

Cita – cita !
Tidak dibeli dengan harta pun kesengsaraan
Tidak dicapai hanya dengan buku – buku tebal
Tidak dengan hanya keluar masuk gedung megah
Gedung megah yang kami sebut ‘sekolah’

Cita – cita, kan ku gapai
Dengan asa tertinggi
Dengan mimpi terindah
Dengan semangat membara
Dengan ilmu yang tiada tara

Tiada guna seragam itu tanpa semangat
Tiada guna masuk kelasku tanpa asa
Tiada guna sekolah mahal itu
Tanpa cita –cita dan ilmu yang sempurna

Ku katakan padamu kawan,
Kan ku miliki dunia dengan segenggam cita – cita
Yang ku gantungkan di langit tertinggi
Yang tiangnya dari ilmu dan semangat secerah sinar mentari
Dan pondasinya mimpi terindah

Jumat, 25 Desember 2009

HERMAPRODIT (Inspired by True Story)


Sudah lebih kurang lima tahun dia menjalani pekerjaan yang sebelumnya tak pernah diinginkannya tersebut, bahkan membayangkannya saja dia tidak mau. Tapi kenyataannya itulah yang terjadi pada hidupnya sekarang, menjadi seorang ‘gigolo’ yang melayani tante – tante girang juga berhubungan dengan pria – pria homoseksual.

Edric, begitu dia biasa dipanggil. Sebenarnya dia adalah sosok pemuda yang baik, berparas tampan dan cukup pintar. Namun sayang pengalaman hidup membuatnya harus menjalani kehidupan yang tidak normal. Berganti – ganti pasangan dan menjalani kehidupan biseksual.

Pengalaman masa kecil

Pada awalnya Edric dan keluarganya adalah keluarga besar yang bahagia. Ayahnya merupakan orang keturunan Pakistan yang bekerja sebagai seorang pedagang sedangkan ibunya orang Jawa yang patuh kepada suaminya.

Edric kecil adalah seorang anak yang rajin membantu ayahnya berdagang. Rumah mereka berdekatan dengan rumah pamannya yang kebetulan adalah pemilik bilyard. Dari sana awal dia mengetahui kehidupan para gigolo namun waktu itu ia tak pernah berniat melibatkan diri ke dalamnya. Hingga suatu peristiwa membuatnya sangat terpukul dan menjerumuskannya pada kehidupan ‘maksiat’.

Saat itu usaha ayahnya mengalami kebangkrutan, karena penipuan dari seorang rekanan. Sang ayah sebagai tulang punggung keluarga tidak siap mengalami kegagalan seperti itu maka jadilah ayahnya mencoba peruntungan dengan berjudi dan menjual ‘togel’. Ibunya yang sangat patuh kepada suami itu tidak mampu mencegah perbuatan buruk ayahnya, sebaliknya sang ibu justru membantu menjalankan usaha terlarang tersebut.
Suatu hari ayah dan ibunya pergi untuk waktu yang cukup lama sehingga tinggallah hanya Edric dan ketiga saudaranya di rumah. Sepeti biasa dia bermain – main di rumah bilyard pamannya yang kebetulan pada saat itu lagi sepi pengunjung.
Kemudian sang paman datang dan mengajaknya bermain bilyard. Sementara Edric tidak menaruh curiga pada pamannya, karena dia merasa sudah sangat mengenal adik ayahnya itu.

Tiba – tiba tanpa diduga pamannya menariknya ke suatu ruangan di rumah bilyard itu, Edric meronta dan berteriak minta tolong tapi tenaga pamannya lebih kuat dan tak seorang pun mendengar teriakannya. Lalu terjadilah hal yang sangat memilukan itu, ia disodomi oleh pamannya sendiri. Dia tidak bisa berbuat apa – apa, tidak pernah disangkanya paman yang dihormatinya selama ini tega melakukan hal menjijikan itu padanya.

Sejak peristiwa itu, Edric menjadi pemuda yang pendiam dan selalu takut bila melihat pamannya. Dia benar – benar terpukul karena perbuatan pamannya itu.

Menjadi Biseksual

Sayang sekali tak seorang pun anggota keluarganya menyadari perubahan sikap Edric. Semua sibuk dengan urusan masing – masing. Sebenarnya Edric pernah mencoba menceritakan peristiwa naas yang menimpanya kepada ibunya namun ibunya tidak mempercayainya bahkan ibunya mengira dia sedang mengarang cerita, begitu juga ayah dan saudara – saudaranya.

Merasa terkucilkan dan tidak pernah dipedulikan oleh keluarganya, Edric pun pergi dari rumah dan mencoba menjadi anak kost. Saat itu dia sudah masuk SMU dan masih butuh banyak uang untuk biaya hidupnya sendiri. Di SMU pula dia mulai menyukai dandanan seperti anak – anak perempuan. Edric mulai memakai kosmetik, seperti celak, lipgloss, dan ‘kutek’ (pewarna kuku).

Untuk membiayai hidupnya sendiri dia harus bekerja. Awalnya dia bekerja sebagai seorang ‘bartender’ di sebuah bar & diskotik. Kemudian dari sana dia berkenalan dengan banyak pria yang berprofesi menjadi ‘gigolo’. Melihat penghasilan pria – pria yang suka melayani wanita – wanita kesepian itu lumayan besar, dia pun mencoba profesi tersebut tanpa berpikir lagi bahwa pekerjaan itu membawa banyak resiko, yang dia inginkan hanya mendapatkan uang sebanyak – banyaknya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Karena parasnya yang tampan, dengan mudah dalam sekejap Edric mendapatkan banyak pelanggan (tante – tante girang*red*). Karena begitu senang mendapatkan uang yang banyak, ia terus melanjutkan pekerjaan terlarang itu sampai lulus sekolah dan ia memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Di saat mulai kuliah itulah dia merasakan keganjilan dalam dirinya, bayang – bayang peristiwa masa kecilnya terus terlintas dan mungkin itu yang mempengaruhi perasaannya menjadi lebih tertarik pada pria daripada wanita. Dia merasa ada bagian jiwa wanita dalam dirinya meskipun dia sadar bahwa dia juga laki – laki. Akhirnya dia tak bisa melawan keganjilan dalam dirinya sehingga dia menjalin hubungan (berpacaran *red*) dengan sesama pria yang juga menyukai jenisnya.

Kehidupan Edric semakin rumit, dia sudah benar – benar terjerumus pada kemaksiatan. Dia terus menjalankan profesinya sebagai ‘gigolo’ yang berhubungan dengan tante – tante genit namun dia juga menyalurkan hasratnya untuk berpacaran dengan pria – pria penyuka sesama jenis. Ya, Edric akhirnya tak bisa mengendalikan dirinya menjadi seorang ‘biseksual’. Mungkin makhluk seperti Edric inilah salah satu contoh ‘hermaprodit’ (tiba – tiba saja aku teringat dengan pelajaran biologi waktu SMP dulu).

Pengakuan

“Sejak awal kuliah dan mengenalmu sebenarnya aku sudah merasa ada suatu keyakinan dalam diriku untuk bersahabat denganmu”, begitu yang dikatakan Edric pada saat memulai cerita hidupnya kepadaku. “sepertinya ada bisikan yang bilang kalo dirimu akan menjadi teman yang baik dan dapat menerima aku apa adanya”, lanjutnya. “jangan terlalu berlebihan menilai diriku, aku hanya berusaha menjadi teman yang baik walaupun awalnya aku ga percaya dengan ceritamu”, begitu jawabku waktu itu.

“Ric, kalo kamu memang menganggapku sebagai sahabatmu aku mau kamu pertimbangkan saranku”, kataku akhirnya. “aku sudah bisa nebak apa yang mau kamu sarankan ke aku Wi”, jawabnya. “kamu pasti mau diriku berubah dan meninggalkan semua yang aku kerjakan itu, iya kan?”, lanjutnya. “Ric….” belum selesai aku bicara dia sudah memotong, “Ga perlu kasih nasihat beserta hadist – hadist nabi ke aku Wi, aku sudah sering dengar” Edric bicara seolah – olah dia sudah tahu isi kepalaku.

Aku maklum kalau dia sudah banyak tahu isi kitab bahkan aku yakin dia tahu lebih baik tentang ajaran agama disbanding diriku karena ayahnya berasal dari keluarga Pakistan yang bisa dibilang taat beragama. Namun aku juga tahu kalau Allah Swt. memberi hidayah hanya pada orang yang dikehendakinya. Bahkan nabi Muhammad pun tidak berhasil mengajak pamannya untuk memilih jalan Allah, apalagi diriku yang hanya manusia biasa?? “Wi, aku tetap menganggapmu sebagai sahabat baikku. Tapi aku minta maaf untuk saat ini aku belum bisa meninggalkan semua, doakan aja suatu saat aku bisa berubah jadi lebih baik”, lirih Edric berkata. “gimana dengan orang tua dan keluargamu?”, tanyaku. “aku memang sudah kembali ke rumah dan mencoba meninggalkan sifat kewanitaanku, tapi justru di rumah aku harus membantu ayahku manjalankan usaha ‘togel’nya dan jadi negosiator dengan polisi yang mencoba mengambil keuntungan dari usaha ayah”, Edric menjawabku dengan suara sedih yang tertahan.

Aku tak bisa berkata apa pun lagi karena setelah mengatakan semua kenyataan itu, Edric segera pergi dan hingga saat ini tidak pernah lagi menghubungiku. Ya Allah, semoga Engkau bukakan hati temanku itu.

MENUNGGU TANPA WAKTU (Inspired by true story)


Cinta datang tak pernah diduga
Cinta datang bukan karena dipaksa
Cinta tumbuh karena kehendak Sang Maha Cinta
Cinta tumbuh bagai energi dari dalam jiwa

Jangan salahkan cinta atas air mata
Jangan salahkan cinta atas kecewa
Karena cinta hanya memberi
Karena cinta sanggup tuk menunggu
Meski tanpa waktu……………..

(my own poem)

Mungkin sepenggal puisi tersebut dapat mewakili perasaan seorang teman yang hingga saat ini masih percaya bahwa cintanya akan kembali kepadanya. Seorang teman yang percaya pada kekuatan harapan. Begitulah yang pernah dituturkannya padaku.

Perkenalan

Saat itu bulan Juli tahun 2005, Didi seorang pemuda biasa yang kuliah di fakultas pertanian di satu – satunya perguruan tinggi negeri di Bengkulu mengikuti kegiatan magang (praktek kerja) bersama beberapa orang temannya di Bandung. Ternyata cukup banyak yang ikut dalam kegiatan tersebut, mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi di berbagai daerah seperti UNAND, UNIB, UNILA, UNIDA, IPB, OENSOED, UNS, dan lain – lain.

Pada saat itulah Di panggilan akrabnya mengenal seorang gadis manis yang kemudian dia tahu namanya Gerish. Gerish yang mahasiswi IPB dari fakultas ilmu nutrisi makanan ternak itu adalah gadis periang. Di mengaku sejak pertama melihat Gerish, dia sudah jatuh hati pada gadis itu (mungkin ini yang disebut orang ‘love at the first sight’ ya). Sayangnya Di bukan tipe cowok yang mudah menunjukkan perasaannya, jadilah Di hanya sekedar berkenalan dan curi – curi pandang di antara beberapa teman yang ikut magang waktu itu.

Menyatakan Cinta

Semakin lama mengenalnya semakin Di mencintai Gerish. Gadis itu selalu mengisi ruang benaknya. Keceriaan dan senyum manis gadis itu membuatnya semakin bersemangat melewati masa – masa magangnya di sana.

Suatu hari di akhir Juli Di sudah bertekad untuk bisa menyatakan perasaannya pada mahasiswi IPB itu. Di pun mencari saat yang tepat untuk mengaplikasikan niatnya itu. Kebetulan di hari terakhir bulan Juli itu para peserta magang mengadakan rekreasi ke kawah putih di daerah Ciwidey kabupaten Bandung (hmm…. Itu tuch tempat syutingnya film heart, yg waktu Nirina berlari di antara akar-akar pohon itu).

Malam itu di antara dinginnya suhu di Ciwidey, akhirnya Di menyatakan perasaannya kepada gadis impiannya itu. Di berpikir dia harus memberikan waktu kepada Gerish untuk memikirkan keputusan atas pernyataannya. Tepat pukul 02.30 dini hari di hari pertama bulan Agustus, gadis itu akhirnya memberi keputusan untuk menerima cinta Di. Tak bisa digambarkan betapa bahagia hati Didi saat itu karena Gerish adalah pacar pertamanya dan dia berharap bisa menjadi yang terakhir.

Lost in time

Sayang sekali kebahagiaan dan kebersamaan yang baru dirasakan Di tidak berlangsung lama karena keesokan harinya mereka harus berpisah. Dia dan sebagian besar peserta magang yang lain harus meneruskan perjalanan ke Bogor sementara Gerish harus ikut rombongan mahasiswa IPB lainnya ke Cirebon. Mereka tidak sempat bertemu lagi sampai masing – masing peserta magang kembali ke kota asalnya.

Jadilah mereka berdua menjalani ‘long distance relationship’ (istilah untuk hubungan jarak jauh). Walaupun belum bisa bertatap muka lagi mereka menjalani hubungan itu dengan bahagia dan tidak pernah mendapat masalah yang berarti. “Dia membuatku semangat menjalani hidup dan mampu melakukan apa pun”, itu yang pernah Didi katakan padaku. “di mana cewek itu sekarang, Di?”, aku tanyakan hal itu padanya ketika tiba – tiba dia ceritakan padaku bahwa dia telah kehilangan cinta Gerish.

Ya, Didi telah kehilangan cinta dari gadis yang sangat dia sayangi itu. Ternyata hubungan mereka hanya bertahan selama 6 bulan saja, tepat pada bulan Februari 2006 Gerish memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. “Gerish bilang dia ga sanggup sendiri. Saat dia membutuhkanku, aku ga ada disampingnya pun sebaliknya. Saat dia butuh tempat bersandar, curhat and anything else aku ga ada buat dia. Mungkin itu yang membuatnya mengambil keputusan buat pisah”, demikian curhat Di kepadaku. “dia sekarang kerja di Serang, Wi”, lanjutnya.

“terus gimana kabarnya sekarang, Di. Apa dia masih sendiri?”, tanyaku saat dia menceritakan kesedihannya karena kehilangan Gerish. “entahlah, yang jelas dia pernah bilang padaku kalo dia sudah anggap aku sebagai teman biasa. Dia benar – benar istimewa bagiku Wi, aku ga bisa melepasnya begitu saja. Sampai sekarang aku masih berharap ada sedikit rasa cinta and sayang dia kepadaku, tapi itu mungkin cuma harapanku aja. Walaupun begitu aku akan ambil harapan itu walaupun hampir tidak mungkin aku mendapatkannya, karena dengan harapan itulah aku masih bisa berdiri sampai sekarang and masih bersemangat untuk menjalani hidup”, ungkap Didi. (saat Di mengatakan itu sudah akhir tahun 2009, coba bayangkan sudah berapa lama dia menunggu mantan pacarnya itu !).

Harapan itu mungkin ada

Di, temanku yang malang apa yang bisa ku sarankan padamu. Aku jadi teringat lagunya Sherina, Cinta Pertama dan Terakhir mungkin itu bisa menggambarkan bagaimana perasaan Didi terhadap Gerish, mojang Bandung yang dikenalnya empat tahun yang lalu itu. “Di, Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik untuk makhluknya. Kalo kamu yakin dengan apa yang kamu harapkan dan kamu lakukan maka lakukanlah. Harapan itu memang selalu ada untuk orang – orang yang mempercayainya”, hanya itu yang bisa ku katakan pada Di akhirnya.

“Thanks Wi, aku akan coba menunggunya walau sampai kapan pun”, ujar Didi. Aku tidak bisa menyarankan apa pun lagi, dalam batinku berdoa semoga semua harapan dan keyakinannya itu terwujud. Cinta oh cinta memang misteri, bisa memberi kekuatan yang tidak terduga. Bisa membuat keajaiban dan keanehan. Bisa merubah harapan menjadi ketegaran, membuat hidup berwarna – warni. Pada akhirnya cinta mampu membuat seorang Di menunggu tanpa waktu.

JAWA BUKAN BORNEO (Inspired by true story)


Waktu ku ucapkan kalimat Jawa bukan Borneo, teman – teman hanya tertawa sembari berseru,”ya iyalah Wi, kamu pikir Borneo di mana? Itu tempat suku Dayak tuch, coba kamu cari di sini mana ada suku Dayaknya ! kamu nich ada – ada ja”. Aku hanya tersenyum kecut, mereka selalu mengartikan kalimat orang secara harfiah.

Padahal aku tidak sekedar sembarang buat kalimat itu. Itu baru bisa ku dapatkan setelah mengikuti perkembangan kejadian di kost akhir – akhir ini dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena harus diawali adanya anak perantauan dari Kalimantan. Setelah itu harus mengakrabkan diri dulu dengan mereka, lalu mempelajari kebiasaan mereka. Benar kan perlu waktu yang cukup lama? Yah, jadi perlu survey dan interview berkali – kali dan berhari – hari (sepertinya terlalu berlebihan ya??) untuk mengeluarkan ‘statement’ seperti itu (halah…..).

Kemunculan keluarga kecil

Suatu hari di bulan Oktober (aku lupa pastinya tanggal dan jam berapa) kami kedatangan anggota kost yang baru dan tidak tanggung – tanggung beliau membawa serta 3 orang anaknya. Namanya Mbak Koshe, sedang ketiga anaknya adalah Tissha, Oka dan Dedek. Mereka baru pindah dari Kalimantan tapi berencana tidak akan lama di sini karena suaminya Mbak Koshe masih tinggal dan bekerja di Kalimantan.

Anaknya yang sulung, si Tissha masih duduk di bangku kelas 2 SMP dan berencana melanjutkan sekolahnya di pulau Jawa ini. Sedangkan 2 orang putranya yakni Oka dan Dedek masih bersekolah di SD. Kuat juga Mbak Koshe ini mengurusi 3 orang anak yang menurutku ‘bandel’ itu seorang diri.
Sebenarnya Mbak Koshe sendiri asli orang Jawa, orang tuanya ada di Pemalang dan suaminya adalah asli Semarang hanya saja setelah menikah suaminya ditugaskan di pulau Borneo. Karena sudah cukup lama berdomisili di Kalimantan nada dan gaya bicaranya sudah menjadi melayu sekali.

Jago Masak

Karena membawa serta anak – anaknya, Mbak Koshe mengambil kamar yang cukup lapang dan dekat dengan kamar mandi dan dapur. Beruntunglah saat itu kamar yang dia inginkan itu masih kosong, jadi dia tidak perlu banyak bernegosiasi dengan si empunya kost untuk diizinkan menyewa kamar tersebut.

Sebagai seorang ibu rumah tangga Mbak Koshe dapat dibilang sangat pandai memasak, ditambah lagi dua kebudayaan yang melekat dalam hidupnya membuatnya pandai membuat menu – menu baru percampuran rasa Jawa-Kalimantan. Dengan keahliannya memasak itu pula dia mencari uang dengan menerima pesanan kue – kue dari orang – orang yang sudah dikenalnya. Posisi kamar yang berdampingan dengan dapur juga sangat membantu usahanya itu.

Pernah suatu hari saat hari ulang tahunku, aku mendapat kejutan sebuah kue ulang tahun yang mungil namun cantik. Aku tahu itu adalah perbuatan Mbak Koshe dan anak – anaknya tapi yang membuatku heran adalah kenapa dia bisa tahu tanggal lahirku sedangkan kawan – kawanku yang sudah lebih dulu nge-kost di sana saja tidak tahu. Entahlah, yang penting aku berterima kasih untuk semua yang dia lakukan itu.

Sejak kejadian itu aku jadi tertarik belajar membuat kue padanya. Aku jadi sering membantunya membuat pesanan dari pelanggannya. Selama proses itu, Mbak Koshe sangat senang bercerita tentang keindahan Kalimantan dan budaya Melayunya yang menarik. “Wi, kalo di Kalimantan itu ya mudah sekali mencari ikan segar. Ada macam – macam dan murah lagi ! ga seperti di sini, yang ada cuma jenis yang itu – itu aja sekalipun ada harus ke supermarket dan harganya lumayan mahal, itu juga belum tentu masih segar”, terdengar Mbak Koshe sedikit mengeluh, dia mulai membanding – bandingkan dua tempat yang jelas – jelas berbeda. “Ya iyalah Mbak, di sana kan banyak sungai besar, jangan disamakan dengan di sini”, timpalku. “Di sana juga gampang kalo mau buah – buahan seperti durian, rambutan, dan lainnya. Apalagi di kabupaten tempat tinggalku, rata – rata kebun dan pekarangan penduduk ditanami buah dan sayur jadi ga perlu jauh – jauh ke pasar mencarinya”, lanjutnya dengan aksen Melayu yang kental. Jadilah sepanjang waktu memasak itu aku terus mendengarkan pujian – pujian Mbak Koshe untuk Pulau yang kaya sungai itu (plus perbandinganya dengan kota tempat kami berada sekarang).

Bubur Kalimantan vs Durian Jawa

Semakin lama semakin senang saja rupanya keluarga itu membandingkan dua pulau yang berbeda budayanya ini. Sepertinya mereka tidak rela sekali tinggal di Jawa ini. Aku ingat pernah suatu waktu Mbak Koshe mencoba membuat masakan khas Pontianak yang terbuat dari sayur –sayuran, kalau aku tidak salah di daerah asalnya diberi nama “Bubur Pedas”. Bubur pedas ini biasanya dibuat dari sayuran segar yang diracik-kecil-kecil lalu dimasak jadi satu lengkap dengan bumbu seperti cabe dan kawan – kawannya.

Maksud hati ingin memperkenalkan masakan Kalimantan kepada anak – anak kost dan kalau bisa dapat persetujuan kalau makanan daerahnya itu memang enak, namun ternyata tidak semua orang sependapat dengan Mbak Koshe. Mungkin hanya 1-2 orang saja yang menyukai masakannya itu sedangkan yang lain terutama anak – anak Jawa mengatakan makanan itu rasanya agak aneh di lidah mereka.

“ makanan apa nich namanya Mbak? “, tanya si Sisil yang anak Solo itu. Dari air mukanya terlihat sekali dia tidak suka dengan makanan itu. “ kata orang Pontianak bubur pedas, Sil”, jawab Mbak Koshe. “Wah, biasanya aku suka makan bubur tapi maaf yang ini kayaknya aku ga doyan Mbak. Rada aneh rasanya di lidahku”, timpal Sisil lagi. “maaf Mbak, sebenarnya makanan ini lumayan enak tapi kayaknya aku ga bisa makan banyak”, aku ikut – ikutan. Sepertinya Mbak Koshe tidak puas dengan tanggapan kami lalu dia menyahut, “itulah kalian ga terbiasa dengan makanan luar sich ! makanya ga bisa ngecocokin lidah dengan masakan dari luar walaupun makanannya enak !”. kelihatan sekali rautnya sedikit kesal.

Itu cerita bubur, lain lagi dengan yang satu ini. Ini kejadian sewaktu kami ( aku, Rara, Mbak Koshe dan anak – anaknya) sedang jalan – jalan mengitari kota Semarang. Kebetulan di sepanjang pinggir jalan ke luar kota banyak yang menjual durian. Karena sudah lama tidak makan buah berbau harum itu, Mbak Koshe berhasrat untuk membeli beberapa buah. Lalu berhentilah kami di salah satu penjual durian itu. Kemudian Mbak Koshe mencoba menanyakan harga satu buah durian yang berukuran sedang. “yang ukuran sedang ja berapa Pak?”, tanyanya. Bapak itu menjawab, “dua lima Bu !” . Tanpa menawar lagi karena berpikir itu adalah harga yang cukup murah dia langsung saja mengambil domper sembari berkata, “ aku ambil dua ja Pak !”. Bapak itu senang karena berhasil menjual dua buah durian dengan mudah lalu dia mengikat dua durian tadi. Ku lihat Mbak Koshe mengeluarkan selembar uang lima ribuan dan menyerahkannya ke penjual durian itu. Bapak itu bengong saat menerima uangnya. “kenapa pak, ada yang salah?”, tanya Mbak Koshe. “Uangnya kurang Bu !”, jawabnya. “lho katanya tadi satu buah dua lima kan? Jadi kalo dua buah lima ribu dong !”, kata Mbak Koshe. Aku dan Rara yang melihat kejadian itu cuma tersenyum geli. “maksud saya satunya dua puluh lima ribu rupiah, bukan dua ribu lima ratus Bu !”, sahut Bapak itu dengan raut muka kesal. Dengan ekspresi terkejut Mbak Koshe sedikit histeris, “dua puluh lima ribu?! Mahalnya, di tempatku yang besar – besar malah dapat sepuluh ribu tiga !”. Bapak itu juga kelihatan terkejut lalu bertanya, “emangnya tempat Ibu itu di mana?”. “di Kalimantan timur”, jawab Mbak Koshe. Bapak itu menjawab lagi sambil mengambil buah durian yang tidak jadi diberikan kepada Mbak Koshe, “kalo gitu Ibu beli duriannya di Kalimantan aja, mungkin beli dua gratis satu !”. Aku dan Rara tidak bisa menahan gelak.

Ketika Mbak Koshe kembali ke mobil, aku iseng bertanya, “ga jadi Mbak beli durennya?”. “ga ah, mahal sekali ! masa duren kecil begitu dua puluh lima ribu? Di tempatku ga bakal ada yang beli kalo harganya segitu !”, jawab Mbak Koshe sambil menyalakan mesin mobil. Ku lihat temanku Rara masih menahan tawanya. Lalu tiba – tiba terlintas kalimat ini di pikiranku, “tau ga Mbak kenapa di sini lebih susah dan mahal dibanding di tempat asal Mbak?” . Mbak Koshe hanya menggeleng – gelengkan kepalanya. Aku langsung berseru diplomatis, “karena Jawa bukan Borneo !”. Ku lihat Rara angguk – angguk tanda setuju sambil senyum – senyum. Anak – anaknya pun ikut tertawa.